Rabu, 21 Desember 2011

MANHAJ DAKWAH PARA NABI

MANHAJ DAKWAH PARA NABI
                                                                                                                                                        Oleh:Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan                                                                                               
  •   Sejumlah jamaah dakwah yang ada pada masa kini merupakan contoh yang sangat memprihatinkan. Mereka sengaja membuat khitah perjuang sebagai manhaj dakwahnya, sedangkan manhaj itu bertentangan dengan manhaj para Rosul. Manhaj dakwah mereka lalai dari akan seruan yang sangat prinsip,kecuali hanya sedikit,yaitu seruan penegakan akhidah. Mereka justru berkutat habis dalam memperjuangkan masalah lainnya. Adakalanya menyeru kepada kebaikan sistem pemerintahan,politik,dan tuntutan tegaknya hukum dan pelaksanaan syariat dalam memutuskan perkara yang timbul di antara manusia. Walaupun perjuangan dalam hal hal tersebut adalah persoalan penting,namun bukan hal yang terpenting. Bagaimana kita menuntut ditegakkannya pelaksanaan hukum Alloh terhadap pencuri, pezina, dan lainnya sebelum menuntut dilaksanakannya hukum Alloh subhanahu wa ta'ala atas diri orang musyrik? Mengapa kita menuntut dilaksanakannya hukum Alloh subhanahu wa ta'ala atas perkara riba, sebelum menuntut pelaksanaan hukum Alloh bagi hamba hamba pengabdi keberhalaan dalam berbagai bentuknya dan atas orang orang yang ingkar terhadap Asma Alloh subhanahu wa ta'ala dan sifatNya, mereka yang men-ta'thil (menolak meyakini) sejumlah dalil yang menunjukan kepada kebenaran ?Tidakkah kemusyrikan itu lebih durhaka dibandingkan zina, pencurian,dan memakan riba? Sebenarnya zina ,mencuri dan sejenisnya adalah perbuatan yang menyangkut hak hamba, sedangkan kemusrikan adalah suatu tindak kejahatan yang menyangkut hak Alloh 'azza wa jalla. Bukankah hak Alloh harus di tunaikan lebih dulu dari hak hamba ? Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rohimahumulloh , berpendapat bahwa dosa dosa seperti zina, minum khomer, dan mencuri selama masih disertai dengan lurusnya tauhid,akan lebih baik di bandingkan dengan rusaknya tauhid tetapi tidak disertai perbuatan perbuatan tersebut.(Al-Istiqomah, vol I halaman 466). Termasuk dalam jamaah yang perlu meluruskan manhaj dakwahnya adalah jamaah yang dalam perjuangannya lebih memfokuskan kepada persoalan syiar syiar ta'abbudi, berusaha keras untuk mengerjakan zikir zikir verbal mengikuti metode sufisme atau mengutamakan kegiatan rihlah, melakukan perjalanan dan rekreasi dalam dakwahnya. Mereka berharap sebanyak mungkin orang dapat bisa berhimpun bersama dalam kegiatan kegiatan semacam itu, namun tidak memberikan perhatian yang cukup bagi penegakan akhidah. Inilah jalan yang ditempuh ahli bid'ah,karena mereka memutar balikan marhalah yang di tempuh para Rosul. Yang terjadi adalah yang semestinya di belakang di jadikan di depan, yang seharusnya di akhirkan di dahulukan,bermaksud mengobati bagian dari tubuh namun hakikatnya dengan membiarkan organ yang paling penting tetap dan bertambah rusak, sebab akhidah dalam tubuh kita adalah hal yang paling pokok. Kiranya sejumlah jamaah dakwah yang ada pada saat ini, perlu memperhatikan dan mengenali kembali manhaj dakwah menuju Alloh'azza wa jalla ,dengan mengambil rujukan kepada kitabuloh dan sunah Nabi solallohu alaihi wassalam. Jika kita telusuri kembali sejarah perjuangan para Rosul, maka kita dapat saksikan bahwa dialog dialog antara para Rosul dan pembesar pembesar dari kaumnya, justru terjadi setelah di sampaikan perkara akhidah yang benar agar mereka mengabdi kepada Alloh subhanahu wa ta'ala saja dan meninggalkan seluruh bentuk ibadah yang ditujukan kepada selainya. Dalam bahasa lain kekuasaan dan pemerintahan baru bisa di peroleh oleh jamaah dakwah setelah tersebarnya dan di terimanya seruan akhidah yang benar yang mengajak manusia hanya beribadah kepada Alloh azza wa jalla saja. Marilah kita perhatikan janji Alloh subhanahu wa ta'ala yang pasti ditepati jika kita telah memenuhi kriteria orang yang beriman sebagaimana firmanNya:"Dan Alloh telah berjanji kepada orang orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal amal solih, bahwa Dia sungguh sungguh akan menjadikan orang orang yang sebelum mereka berkuasa dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoiNya untuk mereka dan Dia benar benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun denganKu. Dan barang siapa yang tetap kufur sesudah(janji) itu maka mereka itulah orang yang fasik.(QS.An-Nur ayat 55). Sedemikian jelas janji itu,namun kita saksikan sekarang ini sejumlah jamaah dakwah menghendaki tegaknya Daulah Islamiyah sementara akidah akidah Watsaniyah Al Mutamatsilah (akidah keberhalaan dengan segala bentuknya) masih menjadi anutan penduduk negerinya. Masih banyak orang yang menyembah orang mati dan menjalin kontak dengan kuburan kuburan,suatu praktek kemusyrikan besar yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan para penyembah Lata dan Uzza serta manat bahkan jauh lebih sesat darinya.Siapa yang menginginkan keluhuran tanpa harus bekerja keras maka untuk memperolehnya haruslah dengan menyia nyiakan umur.Jka bersikeras untuk menegakkan hukum syariat yang berarti pnegakan hukum pidana maupun perdata,serta penegakkan Daulah Islamiyah,menjauhi larangan larangan dan mengerjakan seluruh kewajiban yang semuanya itu merupakan perkara perkara yang termasuk hakhak tauhid ,berikut kesempurnaanya .Tidaklah itu berarti kita tengah berusaha untuk memenuhi haq haq tauhid.Sedangkan tauhid yang prinsip itu sendiri kita abaikan ? Konsekuensi tauhid di dahulukan sedangkan tauhidnya sendiri tertinggal jauh di belakang.? Tidakkah itu berarti menegakan yang furu sedangkan yang paling ushul di telantarkan. Menurur hemat kami apa yang terjadi pda jamaah jamaah yang berdiri di atas manhaj yang bertentangan dengan manhaj para Rosul dalam metode dakwahnya kepada Alloh subhanahu wa ta'ala adalahsuatu kebodohan . Padahal bagi orang orang jahil tidak patut menjadi Da'i sebab termasuk persyaratan terpenting dalam dakwah adalah ILMU .Sebagaimana firman Alloh Azza wajalla: "Katakanlah inilah jalan(dien)ku dan orang orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepda Alloh dengan hujah yang nyata,Maha suci Alloh dan aku ntiada termasuk orang orang yang musyrik"(QS:Yusuf,108)  kita prhatikan bahwa jamaah jamaah dakwah yang menisbatkan kepada kepada kepentingan dakwah memiliki khitah dan manhaj yang berbeda beda .khitah suatu jamaah tidak dimiliki jamaah yang lainnya,ini merupakan suatu indikasi bahwa manhaj jamaah tersebut bertentangan dengan manhaj para Rosul,sebab manhaj para Rosul hanya satu tidak terbagi bagi,tidak bermacam macam dan tidak pula ada ikhtilaf sebagaimana firman Alloh dalam suroh yusuf diatas.
  •        Maka jika benar jamaah dakwah tersebut mengikuti manhaj Rosululoh sholallohu alahi wasalam,mengikuti jalan yang satu ini pasti mereka tidak saling ikhtilaf.Adanya ikhtilaf di karenakan bertentangan dengan jalan ini.Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman ;"Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus maka ikutilah Dia dan jangan kamu mengikuti jalan jalan (yang lain)karena jalan jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya."(QS;Al-an'am :153) perbedaan dan pertentangan manhaj antar jamaah justru membahayakan bagi islam itu sendiri sehingga kita layak untuk menolak masuk kedalamnya ,berlepas darinya,dan tidak menggolongkannya kedalam jamaah dakwah islam .Sebabtelah jelas bahwa mereka bukan dari islam tidak mmiliki kesesuaian dengan manhaj islam sebagaimana firman Alloh subhanahu w ta'ala "sesungguhnya orang orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolong golongan tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka"(QS:Al-an'am:159) Telah menjadi keyakinan yang pasti islam selalu menyeru kepada persatuan (ij'tima) di atas kebenaran sebagaimana firmannya "Dan hendaklah kalian semua berpegang teguh dengan tali(Dien) Alloh dan janganlah kamu sekali kali bercerai berai (QS:Ali Imran:159)Dengan memperhatikan keadaan jamaah dakwah yang sedemikian memprihatinkan itu wajib bagi bangkitnya jamaah yang benar sebagaimana manhaj para Nabi dalam dakwah kepada Alloh subhanahu wa ta'ala serta menyingkap pergesran dan penyimpangan dari manhaj tersebut.yang kini di alamioleh sejumlah jamaah dakwah.
  •             Dengan demikian diharapkan jamaah jamaah itu dengan penuh kesadaran dapat melakukan koreksi sampai kebenaran ditemukam dan di pegang teguh .Sebenarnya al-haq itu merupakan barang hilang  bagi seorang mikmin.

                                             (Disalin dari buletin AL-JIHAD edisi 03TH1430 H/2009M AS-SALAF SAMARINDA)
                                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar