Rabu, 04 April 2012

Menggugat Hukum Mayo ritas


Menggugat Hukum Mayo ritas
Telah menjadi sunnatullah kalau kebanyakan manusia merupakan para penentang kebenaran. Maka menjadi ironi, ketika kebenaran kemudian diukur dengan suara mayoritas.

Apa Itu Hukum Mayoritas?
 Yang dimaksud dengan hukum mayoritas dalam pembahasan kali ini adalah suatu ketetapan hukum di mana jumlah mayoritas merupakan patokan kebenaran dan suara terbanyak merupakan keputusan yang harus diikuti meski bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah n.
 Sejauh mana keabsahan hukum mayoritas ini? Untuk mengetahui jawabannya, perlu ditelusuri terlebih dahulu oknum (pengusung)nya, yang dalam hal ini adalah manusia, baik tentang hakikat dirinya, sikapnya terhadap para rasul, maupun keadaan mayoritas mereka, menurut kacamata syariat. Dengan diketahui keadaan oknum mayoritas, maka akan diketahui pula sejauh mana keabsahan hukum tersebut.

Hakikat Jati Diri Manusia
 Manusia adalah satu-satunya makhluk Allah l yang menyatakan diri siap memikul ‘amanat berat’ yang tidak mampu dilakukan oleh makhluk-makhluk besar seperti langit, bumi, dan gunung-gunung. Padahal makhluk yang bernama manusia ini berjatidiri dzalum (amat zalim) dan jahul (amat bodoh). Allah l berfirman:
 “Sesungguhnya Kami telah tawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (al-Ahzab: 72)
 Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t berkata, “Allah l mengangkat permasalahan amanat yang Dia amanatkan kepada para mukallafin (makhluk yang dibebani hukum syariat), yaitu amanat menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang diharamkan, baik dalam keadaan tampak maupun tidak tampak. Dia tawarkan amanat itu kepada makhluk-makhluk besar; langit, bumi, dan gunung-gunung sebagai tawaran pilihan, bukan keharusan, ‘Bila engkau menjalankan dan melaksanakannya niscaya ada pahala bagimu, dan bila tidak niscaya kamu akan dihukum.’ Maka makhluk-makhluk itu pun enggan untuk memikulnya karena khawatir akan mengkhianatinya, bukan karena menentang Rabb mereka dan bukan pula karena tidak butuh terhadap pahala-Nya. Kemudian Allah l tawarkan kepada manusia, maka ia pun siap menerima amanat itu dan siap memikulnya dengan segala kezaliman dan kebodohan yang ada pada dirinya. Maka amanat berat itu pun akhirnya dipikul olehnya.” (Taisirul Karimirrahman, hlm. 620)
 Allah l Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana, tidaklah membiarkan manusia mengarungi kehidupan dengan memikul amanat berat tanpa bimbingan Ilahi. Maka Dia pun mengutus para rasul sebagai pembimbing mereka dan menurunkan Kitab Suci agar manusia berpegang teguh dengannya dan mengambil petunjuk darinya. Allah l berfirman:
 “Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, serta Kami turunkan bersama mereka Kitab Suci dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (al-Hadid: 25)

Sikap Manusia terhadap Para Rasul yang Membimbing Mereka
 Namun, demikianlah umat manusia. Para rasul yang membimbing mereka itu justru ditentang, didustakan, dan dihinakan. Allah l berfirman:
 “Yang demikian itu dikarenakan telah datang para rasul kepada mereka dengan membawa bukti-bukti nyata, lalu mereka kafir (menentang para rasul tersebut), maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Mahakuat lagi Mahadahsyat hukuman-Nya.” (Ghafir: 22)
 “Jika mereka mendustakan kamu (Muhammad), maka sesungguhnya para rasul sebelummu pun telah didustakan (pula). Mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan Kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (Ali ‘Imran: 184)
 “Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul), dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya. Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu, oleh karena itu Aku azab mereka. Maka betapa (pedihnya) azab-Ku.” (Ghafir: 5)
 “Dan sungguh telah diperolok-olok beberapa rasul sebelum kamu. Maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan para rasul itu azab atas apa yang selalu mereka perolok-olokkan.” (al-Anbiya: 41)

Bagaimanakah Keadaan Mayoritas Mereka?
 Bila kita merujuk kepada Al-Qur’anul Karim, maka kita akan dapati bahwa keadaan mayoritas umat manusia adalah:
 1.    Tidak beriman
 Allah l berfirman:
 “Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar dari Rabbmu, tetapi mayoritas manusia tidak beriman.” (Hud: 17)

2.    Tidak bersyukur
 Allah l berfirman:
 “Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi mayoritas manusia tidak bersyukur.” (al-Baqarah: 243)

3.    Benci kepada kebenaran
 Allah l berfirman:
 “Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian, tetapi mayoritas dari kalian membenci kebenaran itu.” (az-Zukhruf: 78)

4.    Fasiq (keluar dari ketaatan)
 Allah l berfirman:
 “Dan sesungguhnya mayoritas manusia adalah orang-orang yang fasiq.” (al-Maidah: 49)

5.    Lalai dari ayat-ayat Allah l
 Allah l berfirman:
 “Dan sesungguhnya mayoritas dari manusia benar-benar lalai dari ayat-ayat Kami.” (Yunus: 92)

6.    Menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu mereka
 Allah l berfirman:
 “Sesungguhnya mayoritas (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu.” (al-An’am: 119)
Saudariku Sampai Kapan Kau Terlena

Saudariku muslimah…
 Ketahuilah, kesulitan yang menimpa umat Islam saat ini merupakan adzab dari Allah I. Adzab tersebut tidaklah turun kecuali disebabkan dosa-dosa para hamba, yang dengan itu diharapkan mereka mau bertaubat kepada Rabb mereka dan mau kembali kepada-Nya.
 Dalam tulisan ringkas ini kami ingin menjelaskan sebagian sebab yang menyampaikan kita pada apa yang kita alami sekarang ini, agar kita mengoreksi diri dan memperbaiki kesalahan.

Pertama, dosa-dosa dan kemaksiatan
 Tidak diragukan lagi bahwa dosa dan kemaksiatan termasuk sebab terbesar yang menyampaikan umat terdahulu pada kebinasaan. Ali z berkata: “Tidaklah turun bala` (siksaan) kecuali karena dosa, dan bala` tersebut tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.”
 Ketika bala‘ menimpa suatu kaum, tak ada satupun upaya yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Meski ada orang-orang shalih di antara mereka, azab tetap menyeluruh. Sebagaimana ucapan Zainab x kepada Nabi r: “Apakah kita akan dibinasakan sedangkan ada orang-orang shalih di antara kita?”
 Nabi r bersabda: “Ya, apabila telah banyak kejelekan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7059 dan Muslim no. 2880)
 Pada umat ini pun ada orang-orang shalih, akan tetapi banyak pula tersebar kejelekan. Oleh karena itu hendaknya orang-orang yang memiliki akal menjauhi dosa-dosa dan kemaksiatan agar Allah I tidak memasukkan dirinya ke dalam adzab-Nya yang pedih dan tidak menghadapkan dirinya kepada kemurkaan Allah I.
 Betapa banyak penduduk negeri yang berada dalam keamanan dan ketenangan, mereka diberi nikmat dengan makmurnya kehidupan kemudian Allah I membinasakan dan mengubah keadaan mereka. Allah I ganti nikmat tersebut dengan kelaparan, rasa aman dengan ketakutan, disebabkan dosa dan kemaksiatan.
 Allah I berfirman:

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rizki datang kepada mereka melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu Allah menimpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.” (An-Nahl: 112)
 Maka perhatikanlah kelembutan sifat Allah I dan perhatikan bagaimana Allah I mengubah keadaan mereka. Semua itu disebabkan dosa dan kemaksiatan hamba.

Kedua, lemahnya ketakwaan
 Ketahuilah wahai Saudariku, semoga Allah I merahmatimu.
 Lemahnya takwa dalam hati juga merupakan sebab yang mengantarkan kepada kebinasaan dan hilangnya kenikmatan serta berubahnya keadaan yang paling baik menjadi yang paling buruk. Lemahnya takwa termasuk sebab datangnya murka Allah I.
 Dia yang Maha Suci berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami siksa mereka karena perbuatan mereka itu.” (Al-A’raf: 96)

Ketiga, merajalelanya kerusakan
 Merajalelanya berbagai macam perbuatan dosa, seperti wanita menampakkan perhiasan (aurat)-nya di depan laki-laki yang bukan mahram, bercampur baurnya laki-laki dan wanita yang bukan mahram tanpa hijab yang syar’i, banyaknya perzinaan, ditinggalkannya shalat dan zakat, banyaknya riba, homoseks, dan sebagainya termasuk sebab turunnya bala‘ pada umat ini. Ketika perbuatan tersebut dilakukan terang-terangan dalam suatu kaum dan disiarkan sampai merata di kalangan mereka, maka dipastikan akan turun adzab. Allah I berfirman dalam Surat Ar-Rum ayat 41:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka mau kembali.”
 Bila Allah I ingin membinasakan suatu kaum, Allah I jadikan orang-orang yang paling jahat di antara mereka bertambah kefasikan dan kerusakannya, kemudian mereka menyebarkan kerusakan itu dan menyeru manusia untuk melakukannya. Saat itulah turun adzab, sebagaimana firman Allah I:

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya menaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra`: 16)

Keempat, merasa aman dari makar Allah I
 Orang-orang yang shalih selalu tunduk dalam ketaatan, bertaubat, dan khusyu’. Hati mereka bergetar karena takut kepada Allah I dan khawatir akan adzab-Nya yang pedih.
 Namun sungguh mengherankan, ada orang yang menampakkan kemaksiatan di hadapan Allah I secara terang-terangan. Sungguh mengherankan, ia terus-menerus melakukan dosa besar dan kemaksiatan. Tidaklah ia meninggalkan satu dosa kecuali telah melakukan dosa yang lain.
 Sungguh mengherankan, wanita yang keluar dalam keadaan tidak berpakaian kecuali hanya sekedar menutup separuh badannya, kemudian ia pergi ke pasar dan menimbulkan fitnah di hati hamba-hamba Allah I. Betapa mengherankan orang yang lalai padahal ia berada dalam pengawasan Allah I. Bagaimana mereka semua merasa aman dari makar Allah I? Apakah mereka belum pernah mendengar firman Allah I:

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami pada mereka di malam hari saat mereka tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari datangnya siksaan Kami di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak diduga-duga)? Tidaklah merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 97-99)
 Orang-orang yang merasa aman dari makar Allah I adalah orang-orang yang merugi, karena mereka lengah dari adzab Allah I hingga adzab itu sampai kepada mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari. Yang demikian itu disebabkan mereka merasa aman dari makar Allah I. Mereka terus-menerus dalam kemaksiatan, tidak menyadari kemurkaan Allah  I hingga terjadilah apa yang terjadi.
 Wahai saudariku muslimah…
 Sepantasnya seorang muslim yang hakiki mengetahui beberapa perkara penting berikut ini:
 Pertama, hendaknya kita berserah diri kepada Allah dan meyakini bahwa Allah I tidak akan mendzalimi siapapun sebagaimana firman-Nya:

“Dan sekali-kali Allah tidak mendzalimi hamba-hamba-Nya.” (Fushshilat: 46)
 Sebab turunnya adzab kepada manusia adalah akibat ulah mereka sendiri, sebagai buah dari amalan mereka. Allah I berfirman:

“Dan Allah tidaklah mendzalimi mereka, akan tetapi diri-diri mereka sendirilah yang dzalim.” (Ali ‘Imran: 117)
 Kedua, wajib atas setiap muslim mengetahui bahwa ujian itu datangnya dari Allah I. Firman Allah I:

“Dan Kami akan memberi kalian cobaan dengan kejelekan dan kebaikan sebagai ujian dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)
 Hendaknya pula ia mengerti bahwa Allah I menguji hamba-hamba-Nya agar dapat dibedakan siapa yang betul-betul beriman kepada Allah I dan siapa orang-orang munafik, siapa yang jujur dan siapa yang dusta. Hal ini adalah sunnatullah yang berlaku pada umat-umat terdahulu.
 Allah I berfirman:

“Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk jannah padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali ‘Imran: 141-142)
 Ketiga, wajib bagi kita untuk bersabar, mengharap pahala, dan memuji Allah I atas segala yang ditakdirkan-Nya. Hendaknya kita tidak mengeluh atas takdir buruk yang menimpa kita. Kesabaran adalah jalan paling selamat dan paling mudah untuk mendapatkan kelapangan dari Allah I. Dia berfirman:

“Jika kalian bersabar dan bertakwa maka yang demikian itu sungguh merupakan hal yang patut diutamakan.” (Ali ‘Imran: 186)
 Keempat, marilah kita bertaubat kepada Allah I dan memohon ampunan-Nya atas apa yang telah kita lakukan baik itu perbuatan maksiat dan dosa-dosa ataupun kelemahan dalam menjalankan kewajiban. Kita sadari bahwa taubat adalah satu-satunya cara mencapai jalan keselamatan. Akankah kita sambut seruan Allah I tatkala berfirman:

“Dan bertaubatlah kamu sekalian wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (An-Nur: 31)
 Ataukah kita akan terus berada dalam kemaksiatan dan dosa dengan meninggalkan shalat, memakan riba, dan lainnya?
 Akankah para wanita tetap bertabarruj (bersolek dan dipertontonkan di depan laki-laki bukan mahram) dan safar (bepergian) tanpa mahram? Apakah kita ingin menunda taubat dan melupakan firman Allah I:

“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka merekalah orang-orang yang dzalim.” (Al-Hujurat: 11)

Wahai saudariku muslimah…
 Marilah kita bertaubat kepada Allah I dengan taubatan nashuha (yang tulus):

“Wahai Rabb kami, hilangkanlah adzab dari kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang beriman kepada-Mu.” (Ad-Dukhan: 12)
 Mari kita kembali kepada Allah I. Semoga Allah U meringankan bencana atas kita dan menahan siksa-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah atas Nabi kita Muhammad r.
 (Diterjemahkan dari Ilaa Mataa Al Ghaflah karya Abu Umar Salim Al-Ajmi’ oleh Nafisah bintu Abi Salim)
7.    Tidak mengetahui agama yang lurus
 Allah l berfirman:
 “Itulah agama yang lurus, tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)

8.    Mengikuti persangkaan belaka
 Allah l berfirman:
 “Mereka (mayoritas manusia) tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah l).” (al-An’am: 116)

9.    Penghuni Jahannam
 Allah l berfirman:
 “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam mayoritas dari jin dan manusia.” (al-A’raf: 179)

Refleksi terhadap Hukum Mayoritas
 Dari apa yang telah lalu, kita pun mengetahui bahwa ternyata oknum mayoritas tersebut (manusia) berjati diri amat zalim dan amat bodoh. Penentangan mereka terhadap para rasul yang membimbing mereka luar biasa. Demikian pula mayoritas mereka tidak beriman, tidak bersyukur, benci kepada kebenaran, keluar dari ketaatan, lalai dari ayat-ayat Allah l, menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu dan tanpa ilmu, tidak mengetahui agama yang lurus, mengikuti persangkaan belaka, dan penghuni Jahannam.
 Demikianlah kacamata syariat memandang oknum mayoritas. Bila demikian kenyataannya, lalu bagaimana dengan hukum mayoritas itu sendiri?
 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t menggolongkan hukum mayoritas ini ke dalam kaidah-kaidah yang dipegangi oleh orang-orang jahiliah, bahkan termasuk kaidah terbesar yang mereka punyai. Beliau berkata, “Sesungguhnya di antara kaidah terbesar mereka adalah berpegang dan terbuai dengan jumlah mayoritas. Mereka menilai suatu kebenaran dengannya serta menilai suatu kebatilan dengan langka dan sedikitnya orang yang melakukan….” (Masail al-Jahiliah, masalah ke-5)
 Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Di antara karakter jahiliah, mereka menilai suatu kebenaran dengan jumlah mayoritas, dan menilai suatu kesalahan dengan jumlah minoritas. Sehingga sesuatu yang diikuti oleh kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti oleh segelintir orang berarti salah. Inilah patokan yang ada pada diri mereka di dalam menilai yang benar dan yang salah. Padahal patokan ini tidak benar, karena Allah k berfirman:
 “Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah l).” (al-An’am: 116)
 Allah l juga berfirman:
 “Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.” (al-A’raf: 187)
 “Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (al-A’raf: 102)
 Dan lain sebagainya.” (Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 60).
 Bila demikian permasalahannya, maka betapa ironisnya pernyataan para budak demokrasi bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan”1. Suatu pernyataan sesat yang memosisikan suara rakyat (mayoritas) pada tingkat tertinggi yang tak akan pernah salah bak suara Tuhan. Mau dikemanakan firman-firman Allah l di atas?! Yang lebih tragis lagi, orang-orang yang mengampanyekan diri sebagai “partai Islam”….., siang dan malam berteriak “tegakkan syariat Islam!!”, namun sejak awal kampanyenya yang dibidik adalah suara terbanyak. Tak mau tahu, suara siapakah itu. Ketika telah duduk di kursi dewan, teriakannya pun hanya sampai pada kata “tegakkan” sedangkan kata “syariat Islam” tak lagi terdengar. Jangankan menegakkan syariat Islam, menampakkan syi’ar Islam pada dirinya saja masih harus mempertimbangkan sekian banyak pertimbangan.
 Terlebih lagi ketika rapat dan sidang digelar, hasilnya pun berujung pada suara terbanyak. Tak mau tahu, suara siapakah itu… Tak mau peduli, apakah sesuai dengan syariat Islam ataukah justru menguburnya… Tak mau pusing, apakah menguntungkan umat Islam ataukah justru menelantarkannya. Ketika hasil sidang tersebut diprotes karena tak selaras dengan syariat Islam, maka dia pun orang yang pertama kali berkomentar bahwa ini adalah suara mayoritas anggota dewan, kita harus mempunyai sikap toleran dan legowo…, kita harus menjunjung tinggi demokrasi…, dan lain sebagainya. Padahal jika belum duduk di kursi dewan, barangkali dialah orang pertama yang menggelar demonstrasi2 dengan berbagai macam atribut dan spanduknya. Wallahul musta’an.
 Demikianlah bila hukum mayoritas dikultuskan. Kesudahannya, akan semakin jauh dari hukum Allah l, akan semakin buta tentang syariat Islam, bahkan akan menjadi penentang terhadap hukum Allah l dan syariat-Nya.
 Para pembaca yang dirahmati Allah l, sesungguhnya masih ada fenomena lain yang perlu dijadikan refleksi, yaitu digunakannya hukum mayoritas sebagai tolok ukur suatu dakwah. Apabila seorang da’i mempunyai banyak pengikut, ceramahnya diputar di seluruh radio nusantara dan akhirnya digelari “da’i sejuta umat” maka dakwahnya pun pasti benar. Sebaliknya bila seorang da’i pengikutnya hanya sedikit, maka dakwahnya pun dicurigai, bahkan terkadang divonis sesat. Padahal Allah l telah berfirman tentang Nabi Nuh Alaihisalam.
 “Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh ) kecuali sedikit.” (Hud: 40)
 Rasulullah n bersabda:
 عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
 “Telah ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang nabi bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi tidak ada seorang pun yang bersamanya….” (HR. al-Bukhari no. 5705, 5752, dan Muslim no. 220, dari hadits Abdullah bin ‘Abbas c)
 Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy-Syaikh berkata, “Dalam hadits ini terdapat bantahan bagi orang yang berdalih dengan hukum mayoritas dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama mereka. Tidaklah demikian adanya, bahkan yang semestinya adalah mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm.106)
 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin t berkata, “Tidak boleh tertipu dengan jumlah mayoritas, karena jumlah mayoritas terkadang di atas kesesatan. Allah l berfirman:
 “Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah l).” (al-An’am: 116)
 Jika kita melihat bahwa mayoritas penduduk bumi berada dalam kesesatan, maka janganlah tertipu dengan mereka. Jangan pula engkau katakan, ‘Sesungguhnya orang-orang melakukan demikian, mengapa aku bersikap eksklusif tidak sama dengan mereka?’.” (al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, 1/106)
 Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Maka tolok ukurnya bukanlah banyaknya pengikut suatu mazhab atau perkataan, namun tolok ukurnya adalah benar ataukah batil. Selama ia benar walaupun yang mengikutinya hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang mengikutinya, maka itulah yang harus dipegang (diikuti), karena ia adalah keselamatan. Selamanya, sesuatu yang batil tidaklah terdukung (menjadi benar, pen.) karena banyaknya orang yang mengikutinya. Inilah tolok ukur yang harus selalu dipegangi oleh setiap muslim.”
 Beliau juga berkata, “Maka tolok ukurnya bukanlah banyak (mayoritas) ataupun sedikit (minoritas), bahkan tolok ukurnya adalah al-haq (kebenaran). Barang siapa di atas kebenaran—walaupun sendirian—maka ia benar dan wajib diikuti. Jika mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan maka wajib ditolak dan tidak boleh tertipu dengannya. Jadi tolok ukurnya adalah kebenaran. Oleh karena itu, para ulama berkata, ‘Kebenaran tidaklah dinilai dengan orang, namun oranglah yang dinilai dengan kebenaran. Barang siapa di atas kebenaran maka ia wajib diikuti’.” (Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 61)
 Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh berkata, “Hendaknya seorang muslim berhati-hati agar tidak tertipu dengan jumlah mayoritas, karena telah banyak orang-orang yang tertipu (dengannya), bahkan orang-orang yang mengaku berilmu sekalipun. Mereka berkeyakinan di dalam beragama sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang bodoh lagi sesat (yaitu mengikuti mayoritas manusia, pen.) dan tidak mau melihat kepada apa yang dikatakan oleh Allah l dan Rasul-Nya n.” (Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, dinukil dari ta’liq [catatan kaki] Fathul Majid, hlm. 83, no. 1)
 Bagaimanakah Jika Mayoritas Berada di Atas Kebenaran?
 Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Ya, jika mayoritas manusia berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang baik. Namun sunnatullah menunjukkan bahwa mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan.
 “Dan mayoritas manusia tidak akan beriman, walaupun kamu (Muhammad) sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)
 “Dan jika engkau menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116) [Syarh Masail al-Jahiliah, hlm. 62]

Penutup
 Dari pembahasan yang telah lalu, dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwasanya hukum mayoritas bukan dari syariat Islam, sehingga ia tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran suatu dakwah, manhaj, dan perkataan. Tolok ukur yang hakiki adalah kebenaran yang dibangun di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-Salafush Shalih.
 Atas dasar ini, maka sistem demokrasi yang menuhankan suara mayoritas adalah batil. Demikian pula sikap mengukur benar atau tidaknya suatu dakwah, manhaj, dan perkataan dengan hukum mayoritas, merupakan perbuatan batil dan bukan dari syariat Islam.
 Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Bahkan ini adalah kata-kata syirik, menyekutukan Allah l dalam hal sifat-Nya (red.).
 2 Demonstrasi sendiri bukanlah dari ajaran Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar