Senin, 30 April 2012

PERNYATAAN PARA IMAM YANG 4



PERNYATAAN PARA IMAM UNTUK MENGIKUTI  AS-SUNAH  DAN MENINGGALKAN PENDAPAT MEREKA YANG BERTENTANGAN DENGAN AS-SUNAH

Termasuk hal yang berfaedah di sini , kita menyebutkan sebagian atau keseluruhan apa yang kita ketahui  dari perkataan para imam . Agar menjadi nasehat bagi orang orang yang taklid kepada mereka.  Bahkan taklid buta kepada mereka yang  derajatnya lebih  rendah  dari mereka dan memegangi mazhab dan ucapan mereka seolah olah hal itu di turunkan dari langit.Taklid semacam ini di peringatkan oleh Imam Ath-Thahawy beliu berkata” Tidak ada yang berbuat taklid melainkan seorang yang fanatik dan dungu”(hal ini di nukilkan oleh Ibnu Abidin dalam Rasmul mufti (hal 32 juz 1) dari kitab Majmu’ah Rasa’il karya beliu.) Padahal Alloh Ta’ala berfirman:
“Ikutlah kalian apa yang telah di turunkan dari sisi Rabbmu  kepada kalian , dan jangan mengikuti wali wali selainNYA .sungguh sedikit orang orang yang mau berfikir.(Qs.Al-A’raf:3)
Untuk  selanju tnya marilah kita simak pernyataan para imam tersebut:

I.AL IMAM ABU HANIFAH rohimahumulloh
        Sungguh para sahabat beliau telah meriwayatkan  ucapan yang banyak dan ungkapan yang beragam .Semua menunjukan kepada satu perkara yakni wajibnya mengambil hadist dan meninggalkan perbuatan taklid terhadap pendapat pendapat para imam yang bertentangan denganya  diantara ucapan beliau adalah :
1.       Bila suatu hadist telah shahih maka itulah pendapatku( diriwayatkan  oleh Ibnu Abidin dalam  Al-Hasyiyah (1/63) dan Rasmul Mufti(1/4)dari kitab Majmu’ah Rasa’il Ibnu Abidin)Syaikh Shaleh Al-Fulany dalam Iqodhul Himmam(hal.62)dan selain mereka.Ibnu Abidin  menukilkan  dari kitab syarhul Hidayah karya Ibnu Syahnah Al-Kabir  ucapan Syaikh Ibnul Hamammam  seuai dengan yang tersebut di dalamnya  beliu mengatakan” Bila telah shahih suatu hadist dan bertentangan dengan mazhab beliau maka harus beramal dengan hadits  dan hadits tersebut menjadi mazhab baru beliu .dan titdak dikatakan keluar dari sebutan “HANAFI” (yang bermazhab hanafi)seseorang yang mengamalkan hadist tersebut.Karena telah shahih dari beliau bahwa  beliau berkata”Bila suatu hadist telah shahih maka itulah pendapatku” . Sungguh hal itu telah dihikayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dari Abu Hanifah dan Imam Imam selain beliau.
2.       Tidak halal bagi seorangpun  untuk mengambil ucapan kami selama dia belum mengetahui dari mana kami mengambil ucapan tersebut.( diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam Al Intiqa fi fadha’il Ats-Tsalatsah Al Aimah Al Fuqaha (hal 145),Ibnu Qoyim dalam I’Lammul  Muwaqqqi’in(2/309),Ibnu Abidin dalam Hasyiyah beliau terhadap  Al  Bahr ar-ra’iq(6/293)dan dalam Rasmul mufti(hal.29dan23)Asy-Sya’rani dalam  Al-Mizan(1/55). DAlam riwayat lain ,”Haram bagi siapa saja  yang tidak  mengetahui  dalilku  untuk berfatwa menggunakan ucapanku” ( Asy Sya’rany  dalam Al-Mizan( 1/55)Ditambahkan dalam riwayat lain “Karena kami adalah manusia biasa,bias jadi kami mengatakan demikian  di hari ini  kemudian kami  rujuk darinya di ke esokan hari “ (dikeluarkan oleh Abas  Ad-Daury dalam tarikh li Ibni Ma’in(6/77/1) dengan sanad yang shahih dari Zufar.) Ditambahkan  dalam riwayat lain “ Celakalah engkau wahai ya’qub(yakni Abu Yusuf)janganlah engkau menulis semua perkataan yang engkau dengar dariku karena  bisa jadi aku berpendapat demikian hari ini kemudian aku meninggalkannya esok hari  dan aku berpendapat dengan pendapat lain di esok harinya,kemudian aku meninggalkannya di waktu lusa.”(pernyataan seperti ini di sebutkan dari beberapa murid beliau  seperti Zufar, Abu Yusuf ,dan Afiyah bin Yazid,sebagaimana dalam AL-Iqad (hal 52) bahkan Ibnu Qoyim  memastikan ke shahihanya dari Abu Yusuf.demikian pula tambahan pada ta’liq terhadap Al-Iqadh ,dinukil dari Ibnu Abdil Bar(hal.65)Ibnu Qoyim dan selain keduanya.
3.       “Jika aku mengatakan suatu ucapan yang bertentangan dengan kitabbulloh dan kabar dari Ar-Rasul solallohu alaihi wa salam maka tinggalkan ucapanku tersebut.(Diriwayatkan oleh Al-Fulany dalam Al-Iqadh(hal.50)beliau menisbatkan hal itu kepada Imam Ahmad juga,kemudian beliau berkata “hal ini dan yang semisalnya tidaklah pantas di tujukan kepada seorang mujtahid,karena tidak dibutuhkan ucapan mereka dalam hal semacam itu,akan tetapi hal ini di tujukan kepada orang yang taklid” ).

II.AL IMAM MALIK BIN ANAS rohimahumuloh
                 Adapun Al-Imam Malik bin Anas rohimahumulloh  beliau berkata
              1. “Aku hanyalah seorang manusia biasa,terkadang salah dan terkadang                                                                                                                                              bernar,makaPerhatikanlah pendapatku.Setiap yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah maka    ambilah       dan setiap yang tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah(Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam Al’Jami(2/32,Ibnu Hazm dalam Ushul Ahkam (6/149) ,demikian Al-Fulany (hal.72).
              2.”Tidak ada seorangpun setelah Nabi solallohu alaihi wa salam kecuali bisa diambil atau di tinggalkan ucapannya , kecuali Nabi solallohu alaihi wasalam.” (penisbatan ucapan ini kepada Imam Malik telah masyhur di kalangan muta’akhirin(orang orang belakangan )di shahihkan oleh Ibnu Abdil Hady dalam Irsyadus Salik (227/1).Ibnu Abdil Bar dalam Al;Jami(2/91) dan Ibnu Hazm dalam Ushulul Ahkam (6/145dan79)telah meriwayatkan ucapan semacam ini dari Al-Hakam bin Utaibah dan Mujahid.Taqiyudin As-Subkhi dalam Al –Fatawa(1/148)menyebutkan hal ini dari Ibnu Abas kerena kagum dengan keindahannya.Kemudian beliau berkata “Al-Imam mujahid mengambil ucapan ini dari dari Ibnu Abas kemudian Malik mengambilnya dari keduanya lalu hal itu masyhur dari beliau.
              3.”Berkata Ibnu Wahb:Aku mendengar Imam Malik ditanya tentang hukum menyela nyela jari kaki ketika wudhu, Beliau menjawab, “Hal itu tidak wajib bagi manusia “ Ibnu Wahb melanjutkan ucapannya:Maka akupun membiarkan beliau hingga orang orang di sekeliling beliau mulai  berkurang,kemudian aku berkata”Kami memiliki hadist tentang hal itu “ Imam Malik bertanya , “apa itu?” Akupun menjawab “Telah menceritakan kepada kami Al Laits bin Sa’ad,Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Al Harits dari Yazid bin AmrAl-Mu’afiri dari Abu Abdurohman Al-Hubully dari Al-Mustaurid bin Syadad Al-Qurasy bahwa dia berkata “Aku pernah melihat Rosululloh solallohu alaihi wa salam menggosok antara jari jemari kakinya dengan kelingking beliau “ Lalu beliau(Imam Malik) berkata “ Hadist semacam ini berderajat hasan dan aku belum pernah mendengarnya sama sekali selain saat ini”. Kemudian aku mendengar beliau setelah itu ditanya tentang hal itu maka beliaupun memerintahkan untuk menyela nyela jari jemari tersebut.”(lihat mukhodimah Al jahru wat Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim(hal31-32)dan Al Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan(1/8)meriwayatkannya secara sempurna.)

III. AL-IMAM AS-SYAFI’I rohimahumulloh
         Adapun Al-Imam Asy-Syafi’I rohimahumulloh maka sungguh nukilan nukilan dari beliau lebih banyak dan lebih indah di mana pengikut beliau lebih banyak mengamalkannya dan lebih beruntung dari yang lain . diantara ucapan beliau rohimahumulloh:
1.       “Tidak ada seorangpun melainkan pasti luput darinya satu Sunah Rosululloh solallohu alaihi wa salam ,maka sering kali saya katakan suatu ucapan atau suatu kaidah akan tetapi hal itu bertentangan dengan sunah Rosululloh solallohu alaihi wa salam maka ucapan yang di sabdakan Rosululloh solallohu alaihi wa salam itulah itulah pendapatku.(Diriwayatkan oleh Al-Hakim dengan sanad yang muttashil(bersambung)sampai kepada Imam Syafi’i.Sebagaimana dalam kitab Tarikh Dimasyqi karya Ibnu Asakir(15/1/3),I’lamul Muwaqi’in(2/363-364),dan Al-Iqadh (hal.200).
2.       “Kaum muslimin bersepakat bahwa siapa yang jelas baginya Sunah Rosulluloh solallohu alaihi wa salam maka tidak halal meninggalkannya hanya karena ucapan seseorang” (Diriwayatkan oleh IbnuQoyim (2/361)dan Al-Fulany (hal.68)
3.       Bila kalian mendapati dalam kitabku suatu hal yang menyelisihi Sunah Rosululloh solallohu alaihi wa salam maka berkatalah dengan sunah Rosululloh solallohu alaihi wa salam dan tinggalkanlah ucapanku!”(dalam riwayat lain di sebutkan “maka ikutilah Rosulluloh solallohu alaihi wa salam )dan jangan sekali kali kalian berpaling kepada ucapan orang lain”).(Di riwayatkan oleh Al-Harawy dalam Dzammul Kalam(3/47/1).Al-Khatib dalam Al Ihtijaj bis Syafi’i(218),Ibnu Asakir(1519/1)An-Nawawi dalam Al-Majmu(1/63)Ibnu Qoyim(2/361)dan Al-Fulany(hal100)sedangkan Riwayat lain dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah(9/107) dan Ibnu Hiban dalam Shahih Beliau(3/284-Al-Ihsan)dengan sanad shahih dari beliau semisal hal itu.
4         “ Bila telah shahih suatu hadits maka itulah Mazhabku” ( Diriwayatkan oleh An-Nawawi dalam sumber yang sama ,Asy-Sya’rany(1/57)beliau menisbatkan kepada Al-Hakim dan Al-Baihaqi,demikian pula Al-Fulany(hal.152).
5         “Engkau lebih mengetahui hadits dan rawi rawinya di banding aku,maka bila ada hadits yang shahih   beritahullah aku keberadaannya,di Kufah atau Basrah atau di Syam hingga aku akan berpendapat dengan hadist itu.bila mana hadist itu shahih.(ucapan ini di tujukan kepada Al-Imam Ahmad Bin Hanbal, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Adab Asy Syafi’i(hal94-95),Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (9/106)AL-khatib dalam AL-Ihtijaj bis syafi’i(hal1/8),Ibnu Asakir(15/9/1)Ibnu Abdil Bar dalam Al-Intiqo(hal.75)Ibnul Jauzi dalam Manakib Al-Imam Ahmad bin Hanbal dari bapaknya bahwasanya Imam syafi’I berkata kepadanya…hal ini shahih dari beliau.Oleh karena itulah Al-Imam Ibnu Qoyim memastikan penisbatan hal itu kepada beliau dalam kitab Al- I’lam(2/325)demikian pula Al-Fulany dalam Al-Iqadh(hal152) kemudian beliau berkata”Al-Baihaqi mengatakan “oleh karena inilah beliau-yakni Asy-Syafi’I lebih banyak mengambil hadits,bahkan beliau mengumpulkan ilmu penduduk Hijas,Syam,Yaman,dan Iraq. Beliau mengambil Hadits yang shahih menurut beliau tanpa sikap Muhaadah(berat sebelah),beliau tidak cenderung kepada apa yang di anggap boleh oleh Mazhab penduduk negerinya,bagaimanapun jelas baginya bahwa Al-haq itu ada pada selainnya,juga pada orang orang sebelum beliau yang membatasi hanya mengambil Apa yang sesuai dengan mazhab penduduk negerinya dan tidak mau bersungguh sungguh mengetahui keshahihan pendapatyang berseberangan dengannya. Semoga Alloh mengampuni kita dan mereka”.
6         “Setiap permasalahan di mana telah shahih padanya hadits dari Rosululloh solallohu alaihi wa salam menurut pakar Hadits namun bertentangan dengan ucapanku maka aku rujuk darinya di masa hidupku atau sepeninggalku nanti”.(Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah(9/107),Al-Harwy(1/47),Ibnu Qoyim dalam kitab I’lamul Muwaqi’in(2/363),dan Al-Fulany(hal140).
7         Jikalau kalian melihatku mengungkapkan suatu pendapat,sementara telah shahih hadist dari Nabi solallohu alaihi wa sallam yang bertentangan dengannya ,maka ketahuilah bahwa pendapatku tidak berguna(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam adab Asy syafi’i(hal 93)Abul Qasim As-Samarqandy dalam Al Amalysebagaimana tercantum dalam Al-Muntaqa milik Abu Hafsh Al Mauddib (1/234)dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah(9/107)serta Ibnu Asakir(15/10/1)dengan sanad yang shahih.).
8         Setiap apa yang aku ucapkan  sementara ada hadist shahih dari Nabi Solallohu alaihi wa sallam bertentangan dengan ucapanku maka hadist shahih dari Nabi solallohu alaihi wa sallam tersebut lebih layak di ikuti dan janganlah kalian taklid kepadaku(Diriwyatkan dari Ibnu Abi Hatim(hal 93) Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir dengan sanad yang shahih.).
9         Setiap hadist yang shahih dari Nabi Solallohu alaihi wa sallam maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengarnya dariku(Diriwayatkan Oleh Ibnu Abi Hatim ( hal 93-94).

IV.AL –IMAM AHMAD BIN HANBAL  rohimahumulloh.
                 Al-Imam Ahmad bin Hanbal rohimahumulloh adalah ulama yang paling banyak mengumpulkan   (hadist) dan berpegang teguh dengan As-Sunah. Sampai sampai beliau tidak suka dengan kitab kitab yang memuat permasalahan tafri (membagi bagi agama menjadi ushul(pokok) dan furu (cabang) dan ra’yu( rasio) ( diriwaytkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al Manaqib(hal 192). Oleh karena itu beliau berkata:
1.       Janganlah engkau taklid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i ,Al-Auza’I, atau Ats-Tsaury.akan tetapi ambilah (agama ini)dari sumber  dimana mereka mengambil.(Diriwayatkan oleh Al-Fulany(133)dan Ibnu Qoyim dalam Al-I’lam(2/199)disebutkan juga dalam riwayat lain,Jangan sekali kali engkau taklid ke pada siapapun dalam perkara agama,apa saja yang datang dari Nabi solallohu alaihi wa sallam dan para sahabatnya  maka ambilah.Kemudian pada generasi tabi’in setelah itu,seseorang itu harus di seleksi terlebih dahulu(sebelum di ambil ucapannya,tergantung pada kecocokannya dengan As-Sunah-Pent).Trekadang beliau mengatakan “Ittiba” ialah seseorang itu mengikuti apa saja yang datang dari Nabi solallahu alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.Adapun yang datang dari generasi sesudah tabi’in ia harus di pilah (di teliti) terlebih dahulu.(Diriwayatkan oleh Abu Dawud,dalam Masa’il Al-Imam Ahmad(hal276 dan277).
2.       Pendapat Al-Auza’I, begitu pula Malik, dan Abu Hanifah seluruhnya hanya pendapat  dan sama nileinya disisiku.Sedangkan hujah itu terdapat pada atsar.(Diriwayatkan oleh Ibnu AbdilBarr dalam  Al-Jami(2/199).
3.       Barang siapa menolak hadist Rosululloh solallohu alaihi wa  sallam,maka dia berada  ditepi jurang kehancuran(Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzy(hal182).
Demikianlah ucapan- ucapan para imam semoga Alloh Ta’ala meridhoi mereka yang memerintahkan berpegng teguh pada hadist dan melarang perbuatan taklid kepda mereka tanpa dilandasi ilmu.Di mana halitu jelas dalam penjabarannya  tanpa perlu di perdebatkan atau di takwil(dijelaskan maknanya)lagi.Barang siapa yang berpegang teguh dengan hadist yang tsabit dalam As-Sunah walaupun bertentangan dengan pendapat sebagian Imam tidaklah ia bertentangan dengan mazhab mereka bahkan ia telah mengikuti mereka  dan berpegang teguh pada tali Alloh yang kokoh yang tidak pernah putus . Berbeda dengan orang yang meninggalkan As-Sunah yang shahih hanya semata mata karena bertentangan dengan ucapan imam mereka ,karena pada hakekatnya ia telah mendurhakai mereka dan menyelisihi ucapan ucapan imam mereka sebagaimana yang telah disebutkan . Padahal Alloh ta’ala telah berfirman: “ Maka sungguh demi Robbmu. Tidaklah mereka beriman hingga mereka menjadikanmu (Nabi)sebagai hakim dalam perkara yang mereka  perselisihkan,kemudian mereka t tidak merasa keberatan dalam hati mereka ,dan mereka menerima dengan sepenuhnya”(Qs.An-Nisa:65)  
                                                                                                                                                                                  
Dinukil dari Sifat Sholat Nabi Solallohu alaihi wa sallam Karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (terbitan Ash-Shaf) Oleh : Abu Dawud maryanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar